Rest Area Merak News | Surabaya – Cadangan minyak ramai dibicarakan setelah meningkatnya konflik yang melibatkan Iran dan Israel-Amerika. Situasi ini memicu kekhawatiran terhadap jalur distribusi minyak dunia, terutama di Selat Hormuz.
Seperti diketahui, Selat Hormuz menjadi salah satu jalur pengiriman energi paling penting di dunia. Jika jalur ini terganggu atau ditutup, dampaknya bisa terasa hingga ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Apa yang Terjadi di Selat Hormuz?
Imbas konflik antara Iran dan Israel-Amerika, supaya berhenti diserang, Pemerintah Iran menutup Selat Hormuz. Akibat ditutupnya selat tersebut, harga minyak beresiko naik dan rupiah tertekan.
Selat Hormuz adalah jalur utama buat pengiriman minyak dunia yang letaknya strategis, terletak di antara Oman dan Iran. Jalur ini menjadi penghubung utama antara Teluk Persia dengan pasar energi global.
Menurut data Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), yang dikutip dari detikFinance, pada 2023, aliran minyak yang melewati Selat Hormuz mencapai 20,9 juta barel per hari. Jumlah ini setara dengan sekitar 20% dari konsumsi minyak bumi dunia.
Kenapa Tutupnya Selat Hormuz Hal yang Serius?
Kepala Analis Xeneta Peter Sand mengatakan tarif pengiriman kontainer kemungkinan naik untuk wilayah Timur Tengah. Terlebih lagi, masih belum ada jalur laut alternatif yang dapat diandalkan.
Meski kapal tanker minyak hanya diblokir sementara dari Selat Hormuz, ini bisa langsung berdampak pada harga minyak dunia dan menciptakan kelangkaan pasokan. Bahkan, setelah munculnya kabar penutupan Selat Hormuz, harga minyak sempat meroket 10% dan mendekati level US$ 80 per barel.
Pendiri Energy Aspects Amrita Sen juga memperkirakan harga minyak kemungkinan masih akan bertahan di sekitar level tersebut selama ketegangan geopolitik masih berlangsung.
Apakah Harga BBM di Indonesia Bisa Naik?
Kenaikan harga minyak dunia biasanya berpengaruh terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) di berbagai negara, termasuk Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut gejolak di Timur Tengah memang bisa berdampak pada rantai pasok minyak dunia.
Ia menilai situasi ini mirip dengan kondisi saat pecahnya Perang Rusia-Ukraina beberapa waktu lalu, yang juga sempat mendorong lonjakan harga energi global. Jika konflik terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga energi ikut terdampak, termasuk potensi penyesuaian harga BBM.
Menko Airlangga mengungkapkan pemerintah telah bersiaga dan mengamankan pasokan minyak dari luar kawasan Timur Tengah, seperti Amerika Serikat. Hal ini sejalan dengan Pertamina sudah menjalin kerja sama dengan perusahaan energi raksasa asal AS, seperti Chevron dan Exxon guna memastikan stok dalam negeri.
Berapa Cadangan BBM Indonesia Saat Ini?
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa cadangan BBM Indonesia saat ini masih relatif terbatas. Kapasitas penyimpanan BBM nasional hanya mampu menampung pasokan sekitar 20-25 hari.
Dalam rapat terakhir bersama Dewan Energi Nasional dan Pertamina, cadangan pasokan BBM tercatat berada di kisaran 22-23 hari. Angka tersebut masih berada di bawah standar cadangan energi yang umum diterapkan secara global.
Meski begitu, Indonesia tidak tinggal diam. Bahlil bilang dirinya sudah diperintah langsung oleh Presiden Prabowo Subianto untuk membangun storage BBM tambahan.
Pembangunan kapasitas penyimpanan baru, rencananya akan membuat cadangan pasokan BBM Indonesia naik jadi 90 hari atau sekitar 3 bulan. Jumlah sebesar itu setara dengan standar minimum konsesus global.
Sumber Artikel : detik.com
